Adoniram Judson, Sendirian di Burma


Renungan Harian 24 April
Dari Buku: Tiap-tiap Hari Menelusuri Sejarah Baptis

Adoniram Judson, Sendirian di Burma

Nast: Mazmur 27

     Kita tidak bisa menduga apa yang akan terjadi dalam waktu satu tahun dalam pengalaman kita mengembara di dunia ini. Faktanya, beberapa ketakutan terburuk kita, sama halnya dengan rencana-rencana terbaik kita untuk menikmati hubungan yang menyenangkan dengan orang-orang yang kita kasihi di dalam dunia ini, mungkin akan tidak pernah menjadi sebuah kenyataan. Allah, dalam belas kasihan-Nya, melindungi kita dari ketakutan mengantisipasi pengalaman-pengalaman buruk dan menyediakan kita dengan kasih karunia-Nya ketika ujian yang berat tiba.

     Kita sering gagal menyadari kesusahan dan penderitaan yang dialami beberapa pelayan pilihan Allah ketika memberitakan Injil Yesus Kristus kepada orang-orang yang terantai dalam penjara kegelapan rohani. Demikianlah pengalaman dari Adoniram Judson, yang kehilangan istrinya dan anak-anaknya karena wabah penyakit yang ganas di Burma. Kita mendapatkan beberapa pemahaman tentang penderitaan jiwa yang dialami misionari tersebut pada peristiwa kematian putrinya yang masih kecil, Maria, yang meninggal beberapa bulan setelah ibunya, Ann, meninggal di Burma. Ia menulis kepada ibu istri pertamanya, Rebecca Hasseltine, dalam sebuah surat tertanggal 26 April, 1827:

     Maria kecilku yang manis berbaring di sisi ibu kesayangannya. Penyakitnya, yang dideritanya selama beberapa bulan (penyakit perutnya), tidak dapat disembuhkan. Ia telah mendapatkan nasehat medis terbaik; dan perawatan yang baik oleh Ny. Wade, yang bahkan tidak dapat dilebihi oleh ibunya sendiri dalam segi apapun. Tetapi segala usaha, doa-doa, dan air mata kami, tidak dapat meredakan penyakit yang kejam itu. Kematian datang mendekat, dan setelah proses yang biasa itu, yang sangat menyiksa perasaan orangtua, ia berhenti bernafas, pada tanggal 24, pada jam tiga sore, berumur dua tahun tiga bulan. Kami kemudian menutup matanya, dan mengatupkan bibirnya yang pucat, tempat sentuhan gelap kematian pertama kali muncul, dan melipat tangan kecilnya – pola yang sama seperti ibunya, di atas dadanya yang telah menjadi dingin. Keesokan paginya, kami mempersiapkan tempat peristirahatan terakhirnya, dalam sebuah peti kecil di dekat kubur ibunya. Bersama mereka beristirahat dalam pengharapan, di bawah pohon harapan, (Hopia) yang ada di ujung atas makam; dan aku percaya, roh mereka bersama-sama bersukacita, setelah berpisah sejenak, enam bulan tepatnya.

     Demikianlah aku ditinggalkan sendiri dalam dunia yang luas ini. Keluarga ayahku dan seluruh kerabatku, telah bertahun-tahun dipisahkan dariku, oleh lautan yang tidak pernah akan ku seberangi. Mereka bagiku seolah-oleh telah dikuburkan. Keluargaku sendiri yang kukasihi telah kukuburkan: satu di Rangoon, dan dua di Amherst. Yang tersisa bagiku hanyalah menjaga diriku sendiri dalam kesiapan untuk mengikuti orang-orang yang kukasihi menuju ke tempat mulia itu, “tempat sahabat-sahabat, keluargaku tinggal, di mana Allah, Juruselamatku memerintah.”¹

     Seseorang dapat merasakan penderitaan dan kesepian yang diungkapkan dalam surat ini, sebagaimana juga terlihat dedikasi untuk meneruskan pelayanannya, untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Burma, dan memenangkan jiwa-jiwa yang akan binasa kepada Yesus Kristus. Kiranya hari ini pelayan-pelayan Tuhan mengikuti jejak Judson. Kiranya Allah menolong kita untuk menopang misionari-misionari salib ini melewati waktu-waktu sepi mereka dan hari-hari kesusahan mereka dan berjuang melalui doa kita yang kita panjatkan di takhta kasih karunia.
EWT
_________
¹ James D. Knowles, Memoirs of Ann. H. Judson (Philadelphia: American Baptist Publication Society, 1835), hal. 339-40.

Share this:

Tidak ada komentar